Tag: olahraga wanita

Kejar Sejarah, Petarung Tunanetra India Bersinar di Piala Dunia T20

Kejar Sejarah, Petarung Tunanetra India Bersinar di Piala Dunia T20

Perjalanan Berat Menuju Panggung Dunia

Pada gelaran perdana Blind Women’s T20 Cricket World Cup, para pemain tunanetra India akhirnya meraih sorotan besar. Mereka bergerak dari desa terpencil, keluarga petani, hingga asrama kecil, namun tetap mengejar mimpi besar. Selain itu, banyak pemain baru mengenal olahraga ini dalam beberapa tahun terakhir, namun mereka menunjukkan perkembangan luar biasa.

Turnamen enam negara ini menampilkan India, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Australia, dan USA. Ajang ini dimulai di Delhi, lalu berlanjut di Bengaluru, dan kini memasuki babak krusial di Colombo. Dengan format round-robin, India berhasil memenangkan lima laga awal sehingga mereka maju ke semifinal dengan penuh percaya diri.

Skuad yang terdiri dari 16 pemain ini mewakili sembilan negara bagian. Banyak pemain mengenal kriket melalui guru sekolah, lembaga disabilitas, serta kamp komunitas. Meski mereka menghadapi hambatan bahasa dan budaya, akhirnya mereka menemukan cara untuk berkembang.

Dalam blind cricket, bola plastik berisi logam kecil berperan penting. Suaranaya membantu pemain membaca arah bola. Selain itu, pemain dibagi menjadi kategori penglihatan B1, B2, dan B3, sehingga strategi tim menjadi lebih dinamis.

Manajer tim, Shika Shetty, menegaskan bahwa semangat mereka tumbuh dari keberanian. Ia menambahkan bahwa tantangan hadir sejak awal, namun para pemain kini bertanding dengan kebanggaan besar.

Tabel Kategori Penglihatan dalam Blind Cricket

KategoriTingkat PenglihatanPeran Umum
B1Tidak dapat melihatMenggunakan runner saat memukul
B2Penglihatan sangat terbatasPeran fleksibel di lapangan
B3Penglihatan lebih baikSering menjadi fielder aktif

Kisah Pemain yang Menciptakan Inspirasi Baru

Kapten tim, Deepika TC, berasal dari Karnataka. Ia kehilangan penglihatan sejak bayi akibat kecelakaan. Meskipun kehidupannya sederhana, ia menemukan arah baru melalui kriket. Guru di sekolah khusus mendorongnya mencoba olahraga ini. Lama-kelamaan, ia merasa kriket memberi tujuan jelas dalam hidupnya.

Keinginannya untuk membawa India menjadi juara sangat kuat. Ia ingin menyamai keberhasilan tim wanita India yang sebelumnya memenangkan kejuaraan dunia. Lebih jauh, dukungan dari Jemimah Rodrigues dan Shubman Gill membuatnya merasa mendapatkan suntikan semangat besar.

Di sisi lain, wakil kapten Ganga Kadam membawa kisah inspiratif lain. Ia berasal dari keluarga petani dengan sembilan saudara. Ayahnya memasukkannya ke sekolah tunanetra untuk masa depan yang lebih baik. Awalnya ia bermain secara santai, namun seorang mentor memintanya berlatih lebih serius. Proses adaptasinya tidak mudah, tetapi ia terus berjuang hingga menjadi panutan bagi gadis tunanetra lain.

Kemudian ada Anekha Devi, pemain top-order dari Jammu dan Kashmir. Ia lahir dengan penglihatan terbatas dan awalnya takut mencoba kriket. Namun, saran pamannya mengubah hidupnya. Setelah bergabung dengan kamp pelatihan di Delhi, ia langsung menunjukkan kemampuan hebat dalam membaca suara bola. Dalam dua tahun, ia masuk tim nasional dan kini bertekad menjadi role model.

Selain itu, Phula Saren membawa kisah menyentuh. Gadis muda dari komunitas suku di Odisha ini kehilangan penglihatan sebelah mata saat kecil. Ia juga kehilangan ibunya. Namun, guru di sekolah tunanetra mengenalkannya pada kriket. Walau perjalanan turnamen terasa berat, ia tetap melangkah maju karena merasa tempatnya ada di lapangan.

Sementara itu, Sunita Sarathe mempunyai jalur berbeda. Ia menamatkan kuliah, mencoba berbagai pekerjaan, lalu akhirnya jatuh cinta pada kriket setelah mengikuti kamp. Meski ia merasa terlambat memulai, ia berlatih keras. Kini ia menjadi salah satu fielder paling konsisten dalam tim.


Perjuangan Membangun Sistem dan Menatap Masa Depan

Dunia kriket tunanetra berada di bawah pengawasan World Blind Cricket Council (WBCC) sejak 1996. Namun, turnamen dunia bagi wanita baru hadir tahun ini. Sementara itu, struktur kriket tunanetra wanita di India masih muda. CABI, badan resmi yang membina kriket tunanetra, baru berdiri pada 2011. Perekrutan pemain wanita dimulai 2019, dan hasilnya langsung terlihat ketika India meraih emas di IBSA World Games 2023.

Menurut ketua CABI, Mahantesh GK, perjalanan ini penuh rintangan. Tantangan terbesar mencakup pendanaan dan mendapatkan peserta. Namun, dukungan pemerintah, sponsor, dan publik kini terus membesar.

Semifinal dan final berlangsung di Colombo dan disiarkan di banyak platform resmi. Akhirnya, meningkatnya tayangan membuat keluarga lebih yakin memberi dukungan pada putri mereka. Pelatih Shetty merasa bahwa turnamen ini mengubah cara masyarakat memandang olahraga disabilitas.

Dengan demikian, para pemain tunanetra India tidak hanya mengejar gelar dunia. Mereka juga membuka jalan bagi generasi baru yang ingin melangkah ke dunia olahraga dengan keyakinan, harapan, dan harga diri.